Thursday, March 8, 2012

GEPENG. (masih) Hanya bisa melihat.

Kemarin habis ijin ga masuk kantor, bimbingan thesis ma Pembimbing I :))
Kita tunggu hasilnya di hari sabtu...
coz becoz males berangkat pagi, akhirnya saya balik sore aja gituh + agak adem habis ujan.
Karena dengan naiknya tarif patas jadi 20 rebu *aammmppuunnnn....* , alhasil saya putuskan untuk berteman dengan bis ekonomi AC yang meskipun tarif nya juga naek, tapi ga nyekek leher !
Baiklah... intinya bukan penggalauan masal macam cerita diatas...

Cerita berawal sehabis ashar, perjalanan pulang ke Malang dengan ditemani hujan rintik-rintik. Melewati Porong yang selalu padat merayap dan selalu juga pandangan mata menuju rumah disebelah kanan jalan.  Rumah yang bertuliskan "Tanah Milik Kab. Sidoarjo"
Rumah itu sudah menjadi fokus perhatian saya sejak lama, pokoknya selalu saya lihat kalau perjalanan balik atau ke Surabaya. Rumah yang sudah tidak ditempati dengan alang-alang yang meninggi. 
Tampak di teras rumah terdapat barang-barang bekas yang ditata sedemikian rupa sehingga mirip dengan korden. Sepertinya teras tersebut digunakan untuk tempat tinggal. Mungkin untuk seorang gelandangan dan pengemis (gepeng)... yah, sebuah tempat berteduh yang ga layak huni.

Cuaca akhir-akhir ini memang sangat tidak bersahabat. Hujan & angin saja yang bersahabat, entah erat atau hanya sesaat. Yang pasti mereka juga menyebabkan bencana di sekitar kita.
Pulang kemarin , saya kembali melihat rumah itu & bisa melihat "pemilik" rumah tersebut. Dengan cuaca gerimis, rambut panjang tak teratur, jenggot, dia jongkok di depan rumah nya. Mirisnya, sang rumah hampir mulai roboh. Rumah yang mungkin beberapa tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya. Kini hampir beratap langit.



Saya sendiri tidak bermaksud "menggetirkan" suasana. Yang saya lihat adalah fenomena yang sering terjadi. Saya bekerja di pemerintahan dan juga tidak bermaksud untuk selalu membela negara yang "menggaji" saya.
Saya memang bukan orang yang kritis, yang apa-apa saya kritisi sampai mungkin terjadi debat kusir. Saya lebih calm & confident tentunya :)
Dulu, semua apa yang terlihat salah di mata saya, pasti bakal dihubungkan dengan Pasal 34 yaitu Fakir miskin dan anak-anakyang terlantar dipelihara oleh negara.
Dan.... setelah dipikir-pikir lagi *saya garis bawahi tuh kata NEGARA*. Negara harus memenuhi 3 unsur pokok , yaitu pemerintahan, komunitas atau rakyat, dan wilayah tertentu. Kita juga harus bertanggung jawab juga yak !

Kita ga bisa langsung nyalahin pemerintah dan begitu juga pemerintah ga boleh lepas tangan. Ketika ada suatu masalah, jangan lah dilihat dari satu sudut pandang saja. Karena pada akhirnya kita menilai dari hanya apa yang kita lihat, bukan dari kenyataan sebenarnya.
Bisa jadi masalah diatas sudah pernah diselesaikan oleh pemerintah, namun dia kembali menjadi gepeng. Atau dia mengikuti alur yang dibina oleh pemerintah namun ketika dia dikembalikan ke komunitasnya, masyarakat tidak mau menerima.
Memang, dikarenakan dengan adanya dana-dana (APBN atau APBD) yang sebagian di ambil dari pajak masyarakat, membuat  peran dan tanggungjawab pemerintah "lebih besar", namun jangan dilupakan bahwa kita mempunyai hati nurani untuk membantu mereka.

Beberapa tahun yang lalu, ketika masih kerja di Jakarta, seorang teman mengingatkan untuk tidak memberi kepada pengemis. Awalnya saya sempet ga terima & heran, kok bisa ada aturan macam itu, tapi balik lagi ke awal, mungkin adanya peraturan itu untuk mempersempit ruang gerak orang yang menjadikan "pengemis" sebagai suatu profesi.

Memberi sesuatu atau sedekah memang suatu ibadah, tapi kita juga harus cermat memberinya. Kalau kita memberikannnya ke "pengemis profesi" , maka kita malah mendidiknya menjadi lebih malas.


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...