Saturday, May 4, 2013

Ngikutin Passion itu Menyakitkan

Iya bener…!!

Saya udah pernah ngalamin. Mulai gimana bahagia-nya ngikutin passion, sampai hal yang menyakitkan :D

Saya ini orangnya ga tegaan, buang bungkus permen aja saya ga tega. Ga tega kalau bungkus ini bakal kececer sama sodara-sodaranya yang lain. Ahh mereka kan benda mati…
Sampai suatu saat saya dihadapkan oleh pilihan, mau kemana pendidikan tinggi ini saya lanjutkan. Saya ga suka berhitung, ngapalin, dan suatu hal yang menurut saya susah. Hidup saya lancar tapi ga maksimal (menurut saya). Hingga akhirnya saya mantapkan diri, sebagai orang sosial, saya pilih sesuatu berbau sosial. Ilmu Kesejahteraan Sosial. Ilmu yang membawa saya ke hadapan yang terhormat bernama PASSION !

Passion dalam bahasa linggis artinya gairah. Bukan mengarah ke sex, tapi lebih keinginan kita yang sebenarnya untuk berbuat sesuatu. Saya mungkin bisa memaksakan diri untuk masuk ke Fakultas Ekonomi, tapi kalau bukan passion saya ? mungkin berakhir dengan ketidak-maksimal-an (kemungkinannya  banyak yaaa)

Saya jadi ingat gimana saya nangis di depan TL (Team Leader) saya pada sebuah Bank Asing di Jakarta. Saya ga tahan kerja disana, saya Cuma ingin jadi Pekerja Sosial itu aja, titik. Dalam pikiran saya, saya harus ndapetin kerjaan yang pas (sangat idealis). Setiap pulang kantor dan lewat Jl. Margaguna, saya selalu berdoa dan bergumam dalam hati bahwa suatu saat saya akan berada disana. 7 bulan saya berada di Bank Asing dan masih terus berusaha untuk mencari jalan menjadi PekSos. Alhamdulillah kesempatan itu datang. Saya diterima di Kementerian sebagai PekSos (kontrak) dan ketika saya menerima undangan diklat, tempat diklat itu berada di Jl. Margaguna. Suatu tempat yang saya ga akan lepas doa biar masuk kesana. Dan alhamdulillah LOA (Law of Atraction) itu berjalan.

Passion sudah saya ikutin. Saya ditempatkan di sebuah panti di daerah Lenteng Agung. Hanya 6 bulan saya betah, setelah kepindahan saya ke daerah domisili di tolak, saya resign. Kemana passion mu tya ?
Saya akui, setelah itu saya menyesal. Saya mulai bisa menerima hal-hal yang Allah tunda berikan untuk saya.

Setelah nganggur kira-kira 6 bulan. Saya diterima di Dinas kepunyaan Provinsi (kontrak) sebagai seorang fasilitator pedesaan. Suatu hal yang sangat menyenangkan. Desa yang nyaman, berbatasan dengan kota.   Saya mulai merintis lagi, karir menurut passion saya. Karir di lapangan, pekerjaan seperti ini yang saya butuhkan. Memulai membuat PAUD, mempelajari cara membuat pupuk, dls. Sampai akhirnya kesempatan menjadi Pekerja Sosial sebagai PNS terbuka. Saya masuk di Dinas saya saat ini pada 2011. Lagi-lagi saya selalu berdoa dan meyakinkan diri saya kalau lewat daerah Rampal Malang. Bahwa suatu saat saya akan bekerja disana :)

Bayangan saya, bekerja di Panti, sebagai Pekerja Sosial sangat-sangat menyenangkan. Mengajar, mendidik dan membantu sesama yang membutuhkan. Berburu buku-buku yang nantinya akan berguna  nantinya. Sampai akhirnya saya masuk kantor dan saya ditempatkan sebagai Sekretaris. Bukan sebagai Pekerja Sosial. Passion saya ? Masih ada.. Masih…
Di sekretaris, saya bersyukur pernah bekerja di Bank Asing dan mengetahui cara-cara untuk meng-handle konsumen. Apa yang saya dapatkan dulu, saya praktekkan kembali tanpa mematikan passion saya. Sampai suatu saat saya bimbang. Di satu sisi, pekerjaan ini akan membuat kantong saya tebal, di sisi lain passion saya akan membuat kantong saya biasa-biasa saja. Seorang sahabat hanya mengingatkan dengan kalimat "Tujuan mu apa ?". Saya menolak ketika saya diajukan mendapat pelatihan ke Australia. Karena pimpinan saya menyayangkan saya bila menjadi PekSos. Beliau berpikir, saya pantas nantinya akan berada di puncak karier sebagai seorang pemimpin. Ini lah pertama kalinya passion saya kalah telak…

Hingga suatu hari, suatu masalah membuyarkan apa yang sudah saya rencanakan. Sekarang atau tidak sama sekali. Mau tidak mau saya harus mengikuti passion saya. Allah datang mengingatkan saya. Mengingatkan bahwa proses yang baik ini jangan diputuskan begitu saja. Passion itu dan saya sekarang. Berada di sebuah tempat yang untuk membantu para Cacat Netra, berproses menuju kebaikan. Menjadi Pekerja Sosial Profesional.

Passion itu menyakitkan. 
Tapi itu yang membuat saya bahagia.



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...