Wednesday, August 29, 2012

maunya suami & maunya isteri

Selamat pagi sodara/i

Sekedar mau share kalo kemarin abang tukang cinta ngirim email yang isinya postingan dari guru Jamil Azzaini . Agak kaget juga sih, kirain dia ngirimnya yang maunya isteri, eh ternyata emang belum ada postingannya pas hari itu hahhahahaha

Postingan yang di share pertama berjudul "Maunya Suami"


Maunya Suami


Setiap orang yang normal pasti ingin menikah dan punya anak. Setelah berkeluarga pasti masing-masing punya harapan dan kemauan. Sebagai suami, saya juga punya banyak maunya terhadap istri saya. Semoga ini bukan merupakan bentuk penindasan suami terhadap istri, hehehe…
Saya maunya istri lebih banyak di rumah. Apakah tidak boleh bisnis atau bekerja? Boleh, tapi itu bukan prioritas. Waktunya lebih banyak untuk anak-anak dan berada di sisi saya saat saya di rumah. Bila mau bekerja atau bisnis silakan tapi di waktu-waktu sisa, bukan waktu yang utama. Tidak punya penghasilan dong? Tidak apa-apa semua kebutuhan dan permintaanmu saya penuhi.
Saya maunya istri mengembangkan kemampuannya dari rumah bukan dengan meninggalkan rumah.  Saya tidak ingin istri saya terlalu lelah. Tugas menemani dan mendidik anak itu lebih penting dan memerlukan energi besar. “Jangan kuras energimu, saya ingin kau selalu terlihat segar dan bugar.”
Saya maunya istri  itu konsultan buat saya. Saat saya ingin maju, ia mensupport dan mendorong saya. Saat saya alpa atau salah, ia yang meluruskan tanpa rasa takut sedikitpun. Saat saya membawa harta yang haram, ia menolak dan berani melawanku.
Saya maunya istri itu selalu menemani saya. Walau tak harus selalu bersama, ia selalu menemani lewat telepon dan BB. “Rayuanmu, candaanmu itu selalu saya tunggu. Hati inipun terhibur saat kau kirim kata-kata I Love You atau I Miss You. Ketenanganpun menjalar dalam hatiku saat kau bercerita tentang kegiatanmu.”
Saya maunya istri itu penyambung silaturahim. Ia selalu menjaga komunikasi dengan orang tua dan mertuaku. Ia selalu bercanda dengan saudaraku dan juga ipar-iparku. Bila orang tua, mertua dan para saudara serta ipar memerlukan bantuan dengan ringan ia menawarkan diri untuk membantu.
Saya maunya istri itu sahabat abadi. Saya ingin selalu bersamanya di kehidupan dunia maupun setelah dunia. “Oleh karena itu, semakin hari saya ingin kau selalu mengajakku untuk selalu mendekat kepada-Nya. Saya ingin selama-lamanya kau ada di hatiku, di dadaku dan juga di sebelahku.”
Maaf istriku kalau saya banyak maunya padahal belum banyak yang bisa saya berikan kepadamu. Pokoke, I love you… poll!
Salam SuksesMulia!
habis baca postingan ini, saya jadi terharu & inget-inget. Emang sih, kebanyakan pria pasti menyukai hal ini. Apalagi kalo sang suami kaya, wah isteri tinggal ongkang-ongkang kaki memberi semangat & doa :))

 Dan pagi ini, Fahrur ngirimin saya lagi. Kali ini judulnya "Maunya isteri"

Maunya Istri


Tulisan saya ‘Maunya Suami‘ (Selasa, 28 Agustus 2012) mendapat respon yang luar biasa dari pembaca website ini. Terima kasih kepada sahabat semua yang sudah membaca, memberikan komentar dan menyebarluaskannya. Beberapa dari respon itu ada yang meminta saya untuk menulis ‘Maunya Istri’. Akhirnya, usai pulang dari sholat Subuh di Masjid pagi ini, saya bertanya kepada istri, “Apa maunya istri?” Ternyata, maunya istri tidak terlalu banyak. Saya jadi malu, hehehe…
Sebagai istri, aku ingin kau benar-benar menjadi imam atau pemimpinku. Sebagai imam maka ilmumu, ibadahmu dan penghasilanmu tentu harus jauh lebih tinggi dibandingkan aku. Namun ketika mengejar itu, kau tak boleh melupakan aku dan anak-anak. Saat gelisah, aku tak ingin menunggu terlalu lama dipelukmu, karena itu benar-benar menenteramkan jiwaku. Aku ingin kau lebih sering bermain denganku dan anak-anak.
Suamiku, melihatmu menemani anak-anak belajar dan bercengkrama dengan mereka itu hal yang sangat berharga dalam hidupku.  Candaanmu, keusilanmu itu sangat menghiburku dan membuat tak ada jarak antara dirimu dan buah hatimu. Kepedulianmu dengan saudara-saudaraku menjadikan aku yakin bahwa aku tidak salah memilih imam dalam keluargaku.
Sebagai istri, tugasku mendukungmu dan mengangkat derajat anak-anak. Oleh karena itu jangan kau menuntut karirku dalam bisnis terlalu tinggi, karena itu menyiksaku. Pergi jauh dari rumah untuk urusan bisnis tanpamu itu sangat tidak nyaman bagiku. Ketahuilah, menjadi ibu dari anak-anak yang hebat itu lebih membahagiakanku.
Suamiku, aku tahu, bagimu menemaniku pergi ke pasar atau pusat perbelanjaan itu terkadang menyiksamu. Please, tetaplah menemaniku sebagai ganti karena kau tak selalu mengajakku saat kau berkelana menjelajah ke berbagai penjuru.
Mendengar maunya istri, aku hanya bisa berkata dalam hati, “Aku bukan lelaki sempurna, tetapi percayalah, aku akan terus berusaha menyempurnakan hidupku dan hidupmu serta mewujudkan apa maumu.”
Salam SuksesMulia!

saya terharu lho mbaca ini, apa yang saya inginkan juga hampir sama dengan apa yang dituliskan disini. after read this, calon suami saya bilang "simpel ya maunya istri itu...." *minta dijitak*

So, apa yang bisa kita ambil hikmah dari tulisan  kakek Jamil ?
Kalau dari persepsi saya, normal saja antara suami dan istri pasti punya keinginan masing-masing & pasti mereka juga akan mempertahankan ego-nya *klo ga ada yang mau ngalah sih* trus bagi saya, kalau memang kita minta hak , kita juga harus inget apakah kita juga sudah nyelesain kewajiban kita. Kalau memang sudah, monggo-monggo untuk menuntut hak dan maunya masing-masing.

Ya wis, udah yaaa... mau ngemil roti gandum *ceritanya lagi DIE with T*



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...