T&F Anniversary

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Showing posts with label Ilmu Kesejahteraan Sosial. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Kesejahteraan Sosial. Show all posts

Saturday, September 19, 2015

PENDIDIKAN UNTUK ANAK PENYANDANG DISABILITAS

sumber : tribunnews.com

Anak luar biasa atau penyandang cacat menurut Rahardja (2003:6) diartikan sebagai ”anak yang memiliki kelainan fisik, emosi, mental, sosial, atau gabungan dari kelainan tersebut yang sifatnya sedemikian rupa sehingga memerlukan layanan pendidikan secara khusus”. Dalam konteks pendidikan khusus, anak luar biasa diartikan sebagai peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
Anak penyandang cacat haruslah dipenuhi kebutuhan pendidikannya. Kesalahan-kesalahan yang ada di dalam keluarga akan membuat pemenuhan kebutuhan menjadi tidak efektif lagi. Untuk anak cacat kebutuhan pendidikan software digunakan dalam semua jenis kecacatan, namun untuk hardware diberikan sesuai jenis kecacatan yang dimiliki oleh anak tersebut. Contohnya untuk tunanetra dengan pemberian alat untuk menulis Braille (mesin tik, kertas, jarum), tunarungu dengan memberikan alat bantu dengar, kaca, dan buku-buku berbahasa isyarat, terakhir untuk tunagrahita yaitu ala tulis seperti pensil, buku, dan lain sebagainya.
Anak cacat sendiri mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, karena itu diperlukan adanya perbedaan-perbedaan kelas, sehingga pemberian pendidikan pun akan menjadi mudah. Dibawah ini akan dijelaskan tentang jenis-jenis anak penyandang cacat:

a. Tunanetra (A)
Tunanetra diartikan sebagai orang yang memilki ketajaman penglihatannya 20/200 feet atau lebih kecil pada mata yang terbaik setelah dikoreksi dengan mmpergunakan kacamata, atau ketajaman penglihatannya lebih bailn pendidikan dapat diartikan sebagai orang yang karena kelainan penglihatannya, mereka harus diajari dengan mempergunakan Braille. Siswa yang partially sighted dalam perspektif ini adalah anak yang masih mempunyai sisa penglihatan sehingga mereka dapat membaca huruf cetak apakah huruf cetak yang dibesarkan atau dengan mempergunakan kaca pembesar dengan sinar khusus.
Menurut Somantri (1996:52-53), anak-anak dengan gangguan penglihatan ini dapat diketahui dalam kondisi berikut:
1) Ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang awas
2) Terjadi kekeruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu
3) Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak
4) Terjadi kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan penglihatan
Berdasarkan acuan tersebut, maka anak tunanetra dapat dikelompokkan menjadi dua macam,
a) Buta
Dikatakan buta jika anak sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya = 0)
b) Low Vision
Bila anak masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21 feet, atau anak hanya mampu membaca headline pada surat kabar.
Anak tunanetra memiliki karakteristik kognitif, sosial, emosi, motorik, dan kepribadian yang sangat bervariasi. Hal ini sangat bergantung pada sejak kapan anak mengalami ketunanetraan, bagaimana tingkat ketajaman penglihatannya, bagaimana usianya, serta bagaimana tingkat pendidikannya.
Secara ilmiah, ketunanetraan anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, apakah itu faktor dalam diri anak (internal) ataupun faktor dari luar anak (eksternal). Termasuk faktor internal yaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan. Kemungkinannya karena faktor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat, dan sebagainya. Sedangkan yang termasuk faktor eksternal ialah faktor-faktor yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan. Misalnya: kecelakaan, terkena penyakit shipilis yang mengenai matanya saat dilahirkan, pengaruh alat bantu medis (tang) saat melahirkan sehingga mengenai sistem syarafnya, kurang gizi atau vitamin, terkena racun, virus trachoma, panas badan yang terlalu tinggi, serta peradangan mata karena penyakit, bakteri, atau virus.
Penyandang tunanetra sering dipandang sebagai individu yang memilki ciri khas, diantaranya secara fisik penyandang tunanetra dapat dicirikan dengan tongkat, dog, guide, menggunakan kacamata gelap, dan ekspresi wajah tertentu yang datar. Secara sosiologis, penyandang tunanetra juga sering dicirikan dengan mengikuti sekolah-sekolah khusus, jarang bekerja di lingkungan industri, dan secara ekonomis memiliki sifat ketergantungan yang tinggi. Sedangkan secara psikologis mereka sering dicirikan dengan pemilikan indera superior terutama dalam hal perabaan, pendengaran, dan daya ingatannya. Secara umum orang awas juga berpendapat bahwa penyandang tunanetra memiliki masalah pribadi dan sosial yang lebih besar dibandingkan dengan orang awas.
Bagi anak tunanetra, ia harus mempelajari lingkungan sekitarnya dengan menyentuh dan merasakannya. Selain itu, untuk mengetahui objek, mereka mengetahui dengan cara mendengarkan suaranya. Namun, itu semua tidak menjadikan intelegensi mereka menjadi lemah atau kurang. Dalam pendidikan formal, anak tunanetra dibagi dalam beberapa kelas sesuai jenjang pendidikannya. Dikarenakan mereka tidak ber-IQ rendah, maka banyak anak tunanetra yang dimasukkan dalam kelas anak yang normal (inklusi), namun hanya pada pelajaran tertentu. Anak tunanetra memakai huruf braille dalam membaca kata-kata untuk dipelajari, caranya dengan menyentuh huruf itu dan membaca tanda-tanda yang berupa titik timbul. Mereka juga diajarkan untuk memakai mesin ketik untuk orang normal dan cacat itu sendiri. Dari kegiatan mempelajari lingkungan tersebut, anak tunanetra mempunyai tingkat menghapal yang sangat bagus. Jadi ketika menulis, berjalan di lingkungan sekitar, mereka tidak merasakan adanya kesusahan.
Untuk pendidikan informal, keluarga menganggap bahwa anak tunanetra masih bisa di didik lebih baik dari jenis kecacatan lainnya. Pemenuhannya bisa dengan jalan menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi di lingkungannya, baik dan buruk dalam bersikap, adab, dan sopan santun. Pendidikan agama yang berupa gerakan sholat dan mengaji mereka pelajari dengan menghafalkannya. Gerakan sholat diberikan dengan jalan dia harus merasakan gerakan yang diberikan kepada tubuh mereka. Contohnya gerakan ruku’, maka bisa dengan jalan menyuruh mereka membungkuk.
Dalam pemenuhan pendidikan non-formal, anak tunanetra dapat diajarkan keterampilan dalam hal kesenian yaitu menyanyi. Bisa saja dengan alat musik, yang not-notnya sudah dihafalkan terlebih dahulu. lain yang diajarkan adalah pijat atau massage, biasanya SLB akan mengirimkan anak didiknya untuk melanjutkan pendidikan di Malang atau Bandung dan mereka akan mendapatkan semacam sertifikat sehingga mereka bisa bekerja sebagai tukang pijat. Biasanya anak tunanetra lebih menonjol di bidang menyanyi, dikarenakan salah satu funsi indera tidak bekerja, maka indera yang lain menjadi lebih baik. Harapan orang tua dari anak tunanetra yang memasukkan anaknya ke SLB agar paling tidak mereka bisa mengerti tentang apa yang perlu diketahuinya walaupun mereka tidak bisa melihat dan juga mempuyai pengetahuan yang dapat berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain

b. Tunarungu (B)
Dalam mendefinisikan tunarungu ditinjau dari sudut pandang kebutuhan pendidikan, adalah penting untuk mempertimbangkan antara beratnya kehilangan pendengaran dan usia terjadinya ketulian yang diperoleh seseorang. Beratnya ketulian sangat penting dalam menentukan penggunaan sisa pendengaran yang mungkin masih dimiliki oleh anak. Usia terjadinya ketunarunguan merupakan suatu pertimbangan yang harus dikritasi, karena bagaimanapun ada hubungannya dengan perkembangan bahasa.
Batasan tentang tunarungu dipergunakan untuk menggambarkan mereka yang termasuk apakah tuli atau kurang dengar. Kurang dengar adalah tunarungu, apakah permanen atau berubah-ubah, yang berpengaruh terhadap pendidikan yang tidak termasuk ke dalam kelompok tuli. Tuli diartikan sebagai tunarungu yang cukup berat sehingga anak mempunyai kesulitan dalam melakukan proses informasi linguistik melalai pendengaran, dengan atau tanpa alat bantu dengar, yang berpengaruh terhadap pendidikan.
Klasifikasi menurut tarafnya dapat diketahui dengan tes audiometris. Untuk kepentingan pendidikan ketunarunguan menurut Dwidjosumarto (1990:1) dalam Soemantri (1996:76) diklasifikasikan sebagai berikut:
Tingkat I Kehilangan kemampuan mendengar antara 35 sampai 45 dB, penderita hanya memerlukan latihan berbicara dan bantuan mendengar secara khusus
Tingkat II Kehilangan kemampuan mendengar antara 55 sampai 69 dB, penderitanya kadang-kadang memerlukan penempatan sekolah secara khusus. Dalam kebiasaan sehari-hari memerlukan latihan berbicara, dan bantuan latihan berbahasa secara khusus.
Tingkat III Kehilangan kemampuan mendengar antara 70 dB sampai 89 dB; dan
Tingkat IV Kehilangan kemampuan mendengar 90 dB ke atas.
Penderita dari kedua kategori terakhir ini dikatakan mengalami tuli. Dalam kebiasaan sehari-hari mereka sekali adanya latihan berbicara, mendengar, berbahasa dan pelayanan pendidikan secara khusus. Anak yang kehilangan kemampuan mendengar dari tingkat III samapi tingkat IV pada hakekatnya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Perkembangan kemampuan bahasa dan komunikasi anak tunarungu terutama yang tergolong tuli tentu tidak mungkin untuk sampai pada penguasaan bahasa melalui pendengarannya, melainkan harus melalui penglihatannya dana memanfatkan sisa pendengarannya. Oleh sebab itu komunikasi bagi anak tunarungu mempergunakan segala aspek yang ada pada anak tunarungu tersebut. Adapun berbagai media komunikasi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
1) Bagi anak tunarungu yang mampu bicara tetap menggunakan bicara sebagai media dan membaca ujaran sebagai sarana penerimaan dari pihak tunarungu.
2) Menggunakan media tulisan dan membaca sebagai sarana penerimaannya.
3) Menggunakan isyarat sebagai media.
Perhatian akan kebutuhan pendidikan bagi anak tunarungu tidaklah dapat dikatakan kurang karena terbukti bahwa anak tunarungu telah banyak yang mengikuti pendidikan sepanjang lembaga pendidikan ini dapat dijangkaunya. Persoalan baru yang perlu mendapat perhatian jika anak tunarungu tetap saja harus sekolah pada sekolah khusus (SLB) akan timbul permasalahan bahwa anak-anak yang tempat tinggalnya jauh dari SLB tentu saja mereka tidak dapat bersekolah. Usaha lain muncul adalah didirikannya asrama di samping sekolah khusus itu. Rupanya usaha ini tidak dapat diharapkan menjadi satu-satunya cara untuk menyekolahkan mereka. Usaha lain yang mungkin akan mendorong anak tunarungu dapat bersekolah dengan cepat adalah mereka mengikuti pendidikan pada sekolah normal atau biasa dan disediakan program-program khusus bila mereka tidak mampu mempelajari bahan pelajaran seperti anak normal.
Anak tunarungu sekarang dimasukkan ke kelas-kelas terbang atau kelas yang berpindah-pindah sesuai dengan mata pelajaran yang diikutinya. Untuk kecacatan ini, pola pendidikannya lebih fokus pada usaha-usaha pemberian keterampilan membaca, berhitung, dan pemahaman bahasa. Sehingga di setiap kelas diberikan sebuah kaca besar untuk membantu memberikan pelajaran melalui pengucapan kata dengan menghafalkan gerak bibir, selain itu ada kelas tertentu untuk mengajarkan kosa kata dari bahasa khusus untuk tunarungu atau sering disebut bahasa kial. Kurikulum pendidikan formal untuk anak tunanetra masih mengikuti anak normal, sehingga mereka masih kesusahan dalam memahami maksud dari isi buku tersebut. Karena mereka lebih mudah belajar yang disertai dengan gambar-gambar. Untuk komunikasi, mereka menggunakan bahasa kial yaitu bahasa isyarat tangan. Pelajaran itu sudah diberikan waktu awal mereka masuk sekolah agar mereka dapat berkomunikasi dengan teman-teman yang lainnya. Yang paling penting dalam pendidikan formal adalah pemberian pelajaran khusus mengenai keteramplan bersuara mirip dengan anak normal dan memang itu harus dipaksankan.
Pemberian pendidikan informal akan lebih sulit diajarkan lewat cerita-cerita saja, sehingga diperlukan adanya contoh-contoh yang dimasukkan agar anak mudah menghafal. Pendidikan yang lain seperti gerakan sholat lebih mudah dihafalkan, karena mereka dapat melihat contohnya secara langsung, namu untuk bacaan, mereka belajar dengan menghafalkan cara pengucapan. Pendidikan non-formal yang diberikan adalah keterampilan yang tidak banyak memakai fungsi bicara dan pendengaran. Seperti kegiatan menjahit, mengobras, salon, membuat makanan, dan masih banyak keterampilan lainnya. Anak tunarungu baik sekali didalam bidang menari atau olah tubuh, mereka mempelajarinya lewat ketukan. Jadi bila ada suatu acara, mereka lebih banyak diikutkan di bidang gerak tubuh. Orang tua dari anak tunarungu ini berharap agar mereka memanfaatkan apa yang masih dimilikinya yang dimaksudkan untuk bisa berkomunikasi dan mengetahui ilmu pengetahuan.

c. Tunagrahita (C)
Berbagai istilah telah banyak dipergunakan bagi anak-anak tunagrahita atau retardasi mental. Kecenderungan istilah yang sekarang dipergunakan adalah developmental disabillity daripada mental retardation. Layanan pendidikan bagi anak tunagrahita berkembang selama tahun 1950 dan 1960, para guru mempergunakan peristilahan untuk menggambarkan siswanya sesuai dengan klasifikasi akademisnya.
Cara mengelompokan yang lain telah sering dipergunakan oleh para psikolog dan dokter. Mild mental retardation, moderate mental retardation, severe mental retardation, dan profound mental retardation telah dipergunakan untuk mengklasifikasikan anak tunagrahita berdasarkan tes IQ. Sejak tahun 1992 penggunaan definisi lebih menekankan kepada adaptasi perilaku sebagai pengukuran retardasi mental dan kurang menekankan pada IQ. Definisi tersebut menggambarkan sepuluh kategori adaptasi perilaku mulai dari keterampilan berkomunikasi, keterampilan sosial, sampai keterampilan bekerja. Meskipun ada beberapa kesulitan dalam setting pendidikan, ada hal yang perlu diperhatikan yaitu tentang apa yang diperlukan anak agar memperoleh keberhasilan di sekolah dan kemandiriannya di dalam hidupnya apabila memungkinkan.
Terdapat beberapa karakteristik umum anak grahita yang dapat kita pelajari sebagai berikut (Somantri, 1996:85):
1) Keterbatasan Intelegensi
Intelegensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi kehidupan baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berpikir abstrak, kreatif, dapat menilai secara kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan-kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak tunagrahita memiliki kekurangan dalam semua hal tersebut. Kapasitas belajar anak tunagrahita terutama yang bersifat abstrak seperti belajar berhitung, menulis, dan membaca juga terbatas, kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung belajar dengan membeo.
2) Keterbatasan Sosial
Anak tunagrahita memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu mereka memerlukan bantuan. Anak tunagrahita cenderung berteman dengan anak yang lebih muda dari usianya, ketergantungan terhadap orangtua sangat besar, tidak mampu memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana, sehingga mereka harus selalu dibimbing dan diawasi. Mereka juga mudah dipengaruhi. Cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.
3) Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainnya
Anak tunagrahita memerlukan waktu lebih lama untuk melaksanakan reaksi pada situasi yang baru dikenalnya. Mereka memperlihatkan reaksi terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin yang secara konsisten dialaminya dari hari ke hari. Anak tunagrahita tidak dapat menghadapi sesuatu kegiatan dan tugas dalam jangka waktu lama.
Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa. Mereka bukannya mengalami kerusakan artikulasi akan tetapi pusat pengolahan atau perbendaharaan kata yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Karena itu mereka membutuhkan kata-kata konkrit dan sering didengarnya. Selain itu perbedaan dan persamaan harus ditunjukkan secara berulang-ulang. Latihan-latihan sederhana seperti megajarkan konsep besar dan kecil, keras dan lemah, pertama, kedua, dan terakhir, perlu menggunakan pendekatan yang konkrit.
Selain itu, anak tunagrahita kurang mampu untuk mempertimbangkan sesuatu, membedakan antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Ini semua karena kemampuannya yang terbatas, sehingga anak tunagrahita tidak dapat membayangkan terlebih dahulu konsekuensi dari suatu perbuatan. Orang yang paling banyak menanggung beban akibat ketunagrahitaan adalah orang tua dan keluarga anak tersebut. Keluarga anak tunagrahita berada dalam resiko, mereka mengahadapi resiko yang berat. Saudara-saudara anak tersebut pun menghadapi hal-hal yang bersifat emosional.
Untuk anak tunagrahita, pembelajaran lebih menekankan dari kegiatan mencontoh perilaku. Dikarenakan adanya keterbatasan intelegensi, maka dalam pendidikan formal mereka lebih difokuskan untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Sedangkan untuk kemampuan di bidang-bidang lain seperti IPA atau IPS tidak begitu penting untuk diberikan. Karena itu pembelajaran kepada mereka diperlukan waktu yang lama dan berulang-ulang agar mereka dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh kita. Pemberian pendidikan untuk mereka harus lebih hati-hati, karena sekali kita mengajarkan hal buruk dan itu dicontohnya, maka dia akan terus mengikutinya. Dalam pendidikan informal juga begitu, mereka harus diajarkan secara terus menerus sampai hafal, karena mereka tidak bisa mempetimbangkan yang benar atau salah. Namun anak tunagrahita masih dapat diajak berbicara atau berkomunikasi yang dapat dimengerti mereka, karena tidak adanya kelainan di indera-indera mereka yang lain.


Pendidikan non-formal untuk tunagrahita adalah yang tidak banyak menggunakan fungsi otak dalam berfikir. Bisa dengan membuat kerajinan tangan, membuat keset, dan benda-benda dari kertas. Sebenarnya terdapat kesamaan dengan tunarungu, namun hanya keterampilan-keterampilan tertentu saja yang memang lebih dia mengerti. Mereka bisa diajarkan ketrampilan dalam merawat rumah seperti menyapu, menyiran tanaman, dan lain sebagainya. Sehingga mereka masih dapat berinteraksi dengan yang lain. Orang tua berkeinginan, dengan dimasukkannya anak mereka yang tunagrahita ini ke SLB agar mereka mendapat kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan pada akhirnya hidup mereka akan menjadi lebih mandiri dari sebelumnya.

Friday, April 27, 2012

Dilema Kehidupan

Manusia tumbuh dengan pilihan. Pilihan yang diciptakannya sendiri atau pilihan dari orang lain. Beberapa pilihan itu dapat menjadi jalan hidup yang benar namun dapat pula “menyesatkan”. Kebanyakan, pilihan dibuat secara sadar namun ada pula dengan paksaan. Keduanya bisa berakibat positif & negative tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.  Pilihan secara sadar atau yang dipilihkan oleh orang lain adalah salah satu alasan adanya  WTS (Wanita Tuna Susila) atau PSK (Pekerja Seks Komersial). Arti WTS menurut KBBI adalah seseorang yang mempunyai mata pencaharian dengan cara memberikan pelayanan seksual di luar perkawinan kepada siapa saja dari jenis kelamin berbeda yang tujuannya adalah untuk mendapatkan imbalan berupa uang.  
Stigma masyarakat akan “arti” WTS menjadikan “pekerjaan” itu dinilai buruk oleh masyarakat, di satu sisi wanita yang berprofesi sebagai pelacur disebut “pekerja”, tetapi di sisi lain pekerjaan itu tidak pernah mendapat perlindungan, bahkan diobrak-abrik “lingkungan” kerjanya. Tuntutan hidup dan kurangnya  lapangan kerja untuk masyarakat berpendidikan rendah adalah salah satu dari beberapa penyebab mereka memilih jalan hidup seperti ini. Sebagian lagi,  pekerja seks adalah korban pelarian dari KDRT dan beberapa ada yang ditinggal suami baik meninggal atau pergi dari rumah. Namun, pemerintah masih menganggap pelacuran sebagai akibat dari human trafficking yang kebanyakan diawali dengan penawaran bekerja sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga) di kota atau luar negeri, namun nyatanya mereka dijual kepada mucikari dan akhirnya ketika mereka sudah terjual dan ingin lari, mereka tidak tahu harus kemana dan akhirnya menjadikan pekerjaan tersebut sebagai jalan hidup mereka. Mereka menemui situasi tak berdaya dan butuh uang secara instan. Sebuah pilihan bukan paksaan.
Dari cara bekerjanya, WTS terbagi dalam 2 (dua) jenis, yaitu terorganisir dan tidak terorganisir. Bila terorganisir, WTS tersebut berada dalam pengawasan germo, mucikari atau mami yang dipekerjakan dalam lokalisasi, panti pijat plus-plus atau tempat-tempat yang mengusahakan wanita panggilan. Aktivitas mereka bergantung pada orang-orang yang dapat menghubungkan dengan pelanggan dan dapat meminimalisir dari kondisi bahaya sehingga uang yang mereka terima harus dibagi dengan “mediatornya”. Kebalikan dari pelacuran yang terorganisir, pelacuran yang tidak terorganisir mencari pelanggannya sendiri dengan langsung bertransaksi dipinggir jalan. Mereka berada di jalan, menjadi ayam kampus, wanita panggilan, dls. Posisi mereka sangat lemah bila menghadapi pelecehan maupun bahaya. Namun, hasil yang mereka dapatkan akan tetap utuh karena tidak ada pembagian dengan germo. Meskipun pilihan tersebut dilakukan secara sadar, para WTS masih memiliki keinginan kuat untuk meninggalkan pekerjaannya   dan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dimana mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi, malu ataupun mempunyai perasaan bersalah yang akan tetap terus mengahantui mereka.  
Bekerja sebagai PSK dianggap melanggar norma dan moralitas, namun sebagai individu mereka tidak dapat terlepas dari lingkungan sosialnya. Untuk itu diperlukan adanya proses penyesuaian diri. dalam interaksinya mereka berusaha menutupi pekerjaan sebagai PSK, terutama di lingkungan keluarga dan tempat tinggal, untuk menghindari keterasingan dari lingkungan tersebut. Penyesuaian diri yang dilakukan bersifat pasif, mereka menyesuaikan diri dengan bersikap dan bertingkah laku layaknya individu lain di lingkungan tersebut. Ditinjau dari teori Haber dan Runyon, penyesuaian diri yang mereka lakukan tidak memenuhi keseluruhan karakteristik penyesuaian diri yang sehat.
Jawa Timur sebagai salah satu Provinsi di Indonesia dengan jumlah penduduk ± 37 juta jiwa, provinsi ini tidak terlepas dari adanya WTS. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Biro Kesejahteraan Rakyat & Dinas Sosial Provinsi di Jawa Timur tahun 2012, dari 38 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur, tersebar ± 44 lokalisasi dan terdapat 6.782 orang yang bekerja sebagai WTS dan 970 orang sebagai mucikari.
Sebagai wujud dari perhatian pemerintah terhadap masyarakat, beberapa program pemerintah telah digulirkan untuk mengurangi jumlah WTS. Salah satunya adalah program dari Dinas Sosial Prov. Jawa Timur yaitu Program Rehabilitasi Sosial Wanita Tuna Susila. Untuk tahun 2012 ini program dilaksanakan dibeberapa lokasi, yaitu Kabupaten Malang, Mojokerto dan Kota Surabaya. Dana yang diambil terdiri dari PAPBD dan APBN. Program ini terbagi 2 (dua), yaitu program regular dan percepatan. Untuk program reguler dilaksanakan dalam waktu 6 (enam) bulan & percepatan 3 (tiga) bulan. Dalam program ini, WTS diberi pelatihan dan ketrampilan seperti menjahit, salon, sablon dan memasak. Setelah program ini selesai, para WTS dibekali bantuan stimulant berupa peralatan, bahan dan modal usaha. Diharapkan setelah pelatihan ini, para WTS bisa kembali hidup normal dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 
Masyarakat sebagai agen perubahan (agent of change) diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menuntaskan masalah ini. Meskipun pemerintah dalam Pasal 34 UUD 1945 telah “dipasrahkan” untuk mengatasi berbagai macam masalah social, namun tanpa dukungan masyarakat tidak akan berarti apa-apa. Partisipasi masyarakat dan penerimaan yang positif terhadap WTS atau bekas WTS akan mampu memudahkan mereka kembali ke kehidupan normal & lebih baik.

Sumber :
2.      Pembahasan tentang WTS oleh MUHAMMAD FAKHRURROZI
3.      Majalah Kick Andy edisi April 2012
4.      Kamus Besar bahasa Indonesia
5.      Data dari Biro Kesejahteraan Rakyat & Dinas Sosial Prov. Jawa Timur



Monday, January 9, 2012

Hasil d.i.L.e.m.a ^-^

.....dan hahahahahaha setelah menunggu hampir sepersekian minggu...
TTAAARRRAAAA.... hasilnya keluar juga :

Hasil Seleksi Saya :))

Alhamdulillah Ya Allah.... akhirnya bisa tahu kemampuan di bidang ini. Jadi keinget tulisannya Bapak Edy Suharto, bahwa Indonesia kekurangan Pekerja Sosial di bidang orang berkebutuhan khusus (cacat).
Nilai yang di dapat juga alhamdulillah, ga mengecewakan.

Dan pada intinya adalah kembali ke postingan sebelumnya, yaitu mau dibawa kemanakah hasil ini ? hohohohoho 
Pelatihan mulai dilakukan pertengahan Januari & pelatihan lanjutan di Australia Barat mungkin akan dilakukan di bulan Maret - April. huuwwaaaa pasti akan sangat menyenangkan...

Setelah mengalami per-dilema-an, akhirnya berada di satu keputusan untuk mengundurkan diri atas alasan satu dan lain hal. it's okay.. mungkin ini belum rejeki nya, tapi paling nggak, saya tahu sampai dimana kemampuan saya.

Congratulation for Yani & Fitri... Semoga kalian bisa membawa perubahan untuk instansi ini.

Me ? i'm stay. Read, Write & Share....

Monday, December 19, 2011

TUJUAN AWAL MU APA ??

Just thankful to GOD...
We have "Silaturahmi" :))

horreeee hhoorreee.... H-1 kemarin masih bisa jalan-jalan dengan no expectation untuk menghabiskan waktu selama itu tanpa plan yang jelas... *Love U Hunniiiii*

Habis nunggu sekitar beberapa jam & nunut maem di rumah camer (makasih mie jawa nya ya Bu !), akhirnya nongkrong juga di Coffe Corner wiff Anjun & her husband.

Sotomatis dan memang sudah dikira-kira, arah pembicaraan pasti kesana + bisnis gitu.. yah menyebarkan semangat positipnya si doski juga.

Ngobrol kesana kemari dengan tujuan yang jelas, sampai akhirnya menceritakan tentang dilema huhuhuhuhu

Intinya sih, aku posting blog ini cuma mau menyadur apa yang kemarin aku dapet & sekarang masih ada di otak-ku... "TUJUAN AWAL MU APA ??"

Friday, April 29, 2011

at the office

hhuuwwwaaaahhhhhh !!!
wkwkwkwkwkwk pengen ngakak aja, ga kerasa terakhir nulis blog ngomongnya bakal cepet ngerti tempat penempatan, ternyyyaaatttaaa harus nunggu hampir setengah bulan untuk bisa nongkrong & kerja (ya iyalah kerja, masak bokong !)
oke, saya sekarang di SURABAYA
yang pasti bukan bagian dari impian saya untuk berada cepat di daerah pusat Provibsi jawa Timur ini, namun seperti mimpi ato hukum tarik menarik yang menempatkan saya disini.
flashback lagi.... dulu banget, saya memastikan ga akan hidup apalagi kuliah di kota ini. kenapa? karena kota ini sangat panas, hot hot pop & karena saya mampu mengeluarkan keringat lebih. itulah makanya sayaselalu milih pegunungan daripada pantai :))

Saya tahu, namanya rejeki tak dapat ditolak. saya bersyukur ditempatkan disini, saya rasa ini awal yang baik untuk memulai karier. ALHAMDULILLAH !!!

selamat buat saya, selamat buat semua doa-doa yang sudah mengalir penuh khidmat !

THANKS (n_n)

Saturday, March 19, 2011

Zona Nyaman

Pikiran ini sebenarnya sudah menyeruak sejak awal mendaftarkan diri menjadi abdi negara. Pilihan untuk tetap tinggal di "kampung halaman" atau berpindah ke lain hati, entah di pulau yang sama atau di pulau tetangga. Semangat keluar dari zona nyaman mungkin sudah terbaca mulai awal menapaki masa kuliah. Seorang anak muda (ya pada masa itu saya masih muda) di tahun 2004, ingin sekali meneruskan sekolah di Universitas Negeri (UN). Secara prestige lulus SPMB, siapa yang tidak mau? Tapi lebih dari itu karena UN lebih murah. Oke... Tidak terpikir untuk keluar dari kota, tapi apa daya saya ga terlalu suka yang berbau matematika, IPA atau apalah itu. Yang saya pikirkan adalah anak IPS harus masuk ke bidang sosial juga (orang yang berpikir linier tapi ga dibarengi dengan kenyataan. Sedih !). Pilihan pertama jatuh pada Komunikasi - UB. Baru buka dan pasti saya cocok dengan kerjaan saya yang lebih banyak ngobrol daripada mikir hihihi Pilihan kedua...... *mikir* saya ga suka hitung-hitungan, saya ga suka surabaya, kota lain terlalu jauh tapi mama bilang "coba HI di Jember, ntar bisa bareng mbak Anggi!" dan akhirnya kembali membuka daftar universitas, jurusan, coret sana-sini, pilih sana-sini, pilihan pun jatuh pada KESEJAHTERAAN SOSIAL. Apa itu? Saya juga ga tau. Tapi yang pasti, ada kata "SOSIAL" sebagai embel-embelnya (sangat linier bukan??) *sampai hari ini, saya masih belum menemukan alasan kenapa saya ga pilih SOSIOLOGI??*


Saya diterima... Dipilihan kedua. WILKOMEN JEMBER...!! Kota disebelah Blitar, dekat Malang, mungkin hawanya adem.... Namun kenyataan itu buyar seiiring datangnya waktu daftar ulang. Kota yang saya kira dekat ternyata harus melewati sekurang-kurangnya 3 kota - kabupaten dan berhawa panas. Hhaaiisshhhh saya memang dudut fenomenal....!! Saya masih ingat, tangisan saya yang pertama di Jember adalah ketika keluarga saya pulang kembali ke Malang. Saya ditinggal, di kos-kos-an, sendiri??!! *maap lebay* oohh mmyy.... Selamat, anda menjadi anak Kos :)


Hari-hari menjadi mahasiswa begitu indah & bahagia, karena saya tinggal di kosan bersama mahasiswa absurd lainnya. Uang saku + kosan pertama 550 rb dan terakhir 850 rb. IP terendah saya 2.6 , tertinggi 3.7 dan berakhir dengan 3.25 *ujian skripsi 2 kali* . Jember kota yang panas tapi membuat alergi dingin saya berhenti meskipun sesaat. Jember kota kedua saya. Saya bisa keluar dari Zona Nyaman, dalam hal ini keluarga. Saya mau kerja di Jember atau Malang saja (pikiran muda setengah tua).


Jakarta... Iya, saya disana selama kurang lebih 2 (dua) tahun, 2 bulan setelah lulus kuliah. Saya ga dapat pekerjaan di Jember dan di Malang. Eksodus mungkin kata yang tepat... Kota Impian & kota yang tidak ingin saya tinggali. Saya lebih suka pegunungan daripada laut. Sama dengan saya lebih suka kota kecil daripada kota besar. Pekerjaan pertama saya adalah menjadi Call Center di sebuah Bank Asing milik UK. Saya idiealis, belum realistis. Saya masih ingin linier. Tuhan mencoba saya dengan keteguhan hati. Juni 2009, saya diterima di Instansi yang bergerak di bidang sosial. Linier ? YA ! Sangat ! Nyaman ? Belum tentu ! Saya bisa punya banyak uang tanpa harus bekerja susah payah, saya mendapat prestige , tapi saya tidak nyaman. Saya resign di bulan Desember 2009.


Malang, saya kembali! Saya kembali percaya untuk bisa mendapatkan pekerjaan disini dan selamat.... Anda memasuki zona nyaman lagi! Saya menganggur kurang lebih 6 bulan, tapi prinsip saya sudah berubah menjadi idealis realistis. Karena saya sudah jatuh cinta pada "pilihan" kedua" saya, Kesejahteraan Sosial ! Juni 2010 saya kembali bekerja, di instansi kepemudaan sebagai fasilitator. Beberapa bulan berjalan dengan kenyamanan ini, di bulan Oktober lowongan menjadi abdi negara muncul lagi. Saya pilih Kalimantan. Borneo yang saya yakini indah, pulau yang bisa menciptakan kesuksesan bagi saya dan mungkin saja orang lain. Saya terbang kesana, ikut tes, lolos, tes dan lolos lagi. Lancar namun kenyataannya saya gagal di tahap terakhir. Ketika semua kemandirian muncul, keluar dari zona nyaman sudah terbuka lebar, saya gagal dan saya sedih. Keidealisan anda gagal total saudari tYA ! Kembalilah menuju jalan yang real....!! Saya kembali ke zona nyaman. Zona bersama keluarga


Allah tahu yang terbaik. Orang tua saya tidak lagi muda, hampir tiap hari mereka minta dipijat, hampir tiap hari juga mereka minum obat, wajah mereka bukan lagi wajah pekerja keras tapi mereka tetap berusaha untuk keras. Keriput, rambut putih, omelan yang bukan untuk saat ini tapi masa depan. Sekarang mereka lebih suka tertidur di sofa ketika menonton sinetron *aahhhhh saya terharu :'( * saya tahu, mereka sekarang sudah berada di Zona Nyaman. Zona pilihan mereka.


Saat ini, saya sedang menunggu keputusan dimana saya akan tinggal. Entah untuk sementara atau selamanya. Entah nyaman atau tidak. Saya tidak bisa memilih, tapi ini pilihan saya untuk masuk didalamnya. Keputusan ini linier dan tetap idealis juga realistis. Apakah keputusan ini akan membuat saya tetap di dalam atau di luar zona nyaman itu? Allah Maha segalanya, semua keputusan yang akan saya dapatkan nanti, saya percaya itulah yang terbaik...

Fabbiayi alla irrobi kuma tukadziban...

Thursday, March 10, 2011

Curahan hati a.k.a Curhat

Curhat atau dicurhatin..... Tidak saja "hanya" mendengarkan orang yang berbicara tentang masalahnya kepada kita, tapi kita bisa membantu mereka untuk memecahkan masalahnya. Karena, secara tidak sadar, ketika seseorang menceritakan masalahnya pada orang lain (baca : curhat), maka masalah itu sebenarnya sudah berkurang sebanyak 50 % !! Makanya, kadang-kadang setelah curhat, kita jadi sedikit agak lega....... Atau malah jadi bisul gara-gara kelamaan dipendam terus?xixixixixi

Menjadi orang yg dicurhatin itu gampang-gampang susah. Karena kita menghadapi manusia yang mungkin saja bermasalah dengan dirinya sendiri (ga sadar punya masalah). Sebagai seorang "tong sampah", paling tidak kita harus tau seni-seninya. Ada dua yang perlu diketahui, yaitu non-verbal dan verbal....

• Non - Verbal
1. Memulai hubungan
Biasanya kalau orang yang curhat adalah sahabat, teman ataupun keluarga, cara ini akan jauh lebih gampang, karena kita sudah mengenal kondisi mereka sebelumnya. tapi kita harus tetap memulainya dengan :
- Kontak mata
bukan dari matah turun ke hati terus jadi cinta ssiihh... tapi dengan kontak mata, kita bisa membuat orang lain nyaman & meskipun tidak diucapkan, mata akan berbicara bahwa kita perhatian atas apa yang mau diceritakan =))
- Ekspresi wajah
jangan mrengut & jangan tersenyum kecut... beri senyuman pada mereka & kehangatab pasti akan datang. bahagia itu menular...
- Posisi tubuh
kalau sudah asyik ber-curhat ria, pas ti ga inget waktu. cari posisi yang enak & membuat lawan bicara juga gampang mengutarakan sesuatu. ingat, mereka sedang menghadapi masalah, kita dipercaya mereka untuk membantu.

2. Kehangatan, Empati dan Keaslian
- Kehangatan
Berusaha bersikap sebaik mungkin dengan orang lain, memberikan kenyamanan saat bersama mereka dan memberi perhatian yang tulus.
- Empati
Memahami perasaan orang lain dan seakan-akan merasakan hal yang sama dengan mereka.
- Keaslian
Berbagi cerita dengan keaslian kita, tidak dibuat-buat, spontanitas dan alamiah. Mereka akan senang apabila kita tak bersikap menggurui.

• Verbal
1. Penguatan sederhana
Kita harus dapat menjaga kontak mata dengan klien, karena dari sanalah kita bisa membuat klien melanjutkan ceritanya. Namun ingat, kontak mata yang bener... Bukan keganjenan hehehehe

2. Rephrasing
Mengucapkan kembali apa yang sudah mereka ceritakan pada kita dengan bahasa yang erbeda. Bisa dikatakan mengulang kembali dengan bahasa kita dan apa yang kita dapat dari cerita mereka tadi, agar tidak terjadi salah paham atau ga nyambunngg....

3. Respon reflektif
Mereson apa yang dibicarakan mereka dengan kata-kata ketika mereka sudah bercerita panjang dan lebar, namun tidak menyadari bahwa masalah tersebut ada di diri mereka sendiri

4. Klarifikasi
Membuat pernyataan tertentu bahwa kita sudah menangkap masalah atau apa yang diungkapkan mereka. (kesimpulan awal dari curhat itu)

5. Interpretasi
Mengetahui lebih dalam setelah proses klarifikasi (mencari makna). cari akar masalahnya, biar ga tumbuh lagi... (semacam panu :D )

6. Memberikan Informasi
Mulai memberikan informasi yang dibutuhkan mereka, karena kadang-kadang mereka mendapat masalah karena kurangnya informasi

7. Menekankan pada kekuatan klien
Memberikan motivasi atau semangat kepada klien, agar mereka bisa memecahkan masalahnya

8. Mendapatkan informasi
Mengeluarkan pertanyaan yang bersifat terbuka (dijawab dengan panjang) atau tertutup (dijawab dengan pendek) dan berhati-hatilah dengan penggunaan kata "mengapa", karena berpotensi menyudutkan.

Nah itulah beberapa tekhnik yang perlu diketahui. Dan ingat, ketika kita membantu mereka dalam memecahkan masalah, kita perlu tahu paling tidak sedikit mengenai mereka. Karena meskipun masalahnya sama, pemecahannya akan berbeda pada tiap-tiap individu.setiap manusia itu unik =)

semoga membantuu... \(^ _ ^)/

Sumber : Dasar-Dasar pekerjaan Sosial

[Help People to Help Themselves]

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...